"Tugas siswa dikerjakan AI." Keluhan ini sering terdengar di ruang guru. Tetapi kalau ditelusuri, masalahnya sering bukan semata siswa yang curang. Masalahnya, siswa tidak pernah diberi tahu dengan jelas kapan AI boleh dipakai dan kapan tidak. Di satu kelas boleh, di kelas lain dilarang, padahal bentuk tugasnya mirip.
SKB 7 Menteri 2026 menjawab kebingungan ini dengan satu kewajiban yang jelas. Pendidik wajib mengomunikasikan kebijakan pemanfaatan AI untuk setiap jenis tugas atau penilaian, di awal tahun ajaran atau di awal setiap unit pembelajaran.[1] SKB juga memberi contoh model tingkatan yang bisa diadopsi.
Tiga zona menurut SKB 7 Menteri
| Zona | Artinya | Contoh dalam SKB |
|---|---|---|
| Merah Terlarang | AI dilarang sepenuhnya. Siswa mengerjakan secara mandiri. | Ujian harian, UTS, UAS, dan tugas yang mengukur pemahaman konseptual fundamental. |
| Kuning Terbatas dengan aturan | AI boleh dipakai untuk tahap tertentu dengan ketentuan jelas. Hasil akhir harus karya orisinal siswa. | Esai, dengan AI untuk curah ide dan kerangka. Siswa mencantumkan keterangan penggunaan AI dan melampirkan surat pernyataan integritas. |
| Hijau Dianjurkan dengan refleksi | AI dianjurkan dipakai, disertai refleksi. | Menganalisis luaran AI, atau menyusun presentasi dengan bantuan AI untuk mencari data dan membuat visualisasi. |
Model ini terlihat sederhana. Yang sering keliru adalah cara memakainya. Berikut empat hal yang perlu diperhatikan.
1. Zona ditentukan oleh tujuan tugas, bukan mata pelajaran
Matematika tidak otomatis zona merah, dan Bahasa Indonesia tidak otomatis zona kuning. Tanyakan dulu: apa yang sebenarnya ingin dilihat dari tugas ini?
- Kalau yang ingin dilihat adalah pemahaman dasar siswa, tugas itu cocok di zona merah.
- Kalau yang ingin dilatih adalah proses mengembangkan gagasan, zona kuning memberi ruang AI sebagai teman curah ide.
- Kalau yang ingin dilatih adalah kemampuan mengkritisi informasi, zona hijau justru memaksa siswa membedah jawaban AI.
Satu topik bisa memakai ketiga zona di tugas yang berbeda.
2. Zona merah paling bermakna jika dikerjakan di depan guru
Ini jebakan yang paling sering terjadi. Pekerjaan rumah diberi label zona merah, padahal tidak ada yang bisa memastikan siswa benar-benar mengerjakannya tanpa AI. Siswa yang jujur justru bisa dirugikan dibanding siswa yang diam-diam memakai AI.
Detektor AI juga bukan jalan keluar. Penelitian Liang dan rekan-rekan menemukan beberapa detektor keliru menandai rata-rata sekitar 61 persen esai TOEFL tulisan manusia sebagai buatan AI.[2] Hasil ini tidak otomatis berlaku untuk semua bahasa dan semua alat, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa skor detektor bukan bukti.
Karena itu, zona merah paling jujur diterapkan pada kegiatan yang memang diawasi di kelas. Di buku AI Policy, gagasan ini dibahas lebih jauh lewat pemisahan tugas tersupervisi dan tak tersupervisi, termasuk alasan mengapa bobot nilai keduanya sebaiknya tidak disamakan.
3. Zona kuning butuh jejak proses
Zona kuning adalah zona yang paling banyak dipakai sekaligus paling sulit dinilai. Kalau AI boleh dipakai untuk kerangka, bagaimana guru tahu bagian mana yang benar-benar hasil pikiran siswa?
SKB menyarankan beberapa strategi: meminta draf awal, catatan penelitian, atau jurnal refleksi, dan melakukan diskusi atau presentasi lisan ketika siswa menjelaskan alur pemikirannya.[1] Siswa yang benar-benar berpikir biasanya bisa menjelaskan mengapa ia mengubah gagasannya. Siswa yang hanya menyalin biasanya kesulitan menjelaskan langkahnya.
4. Zona hijau bukan zona bebas
Zona hijau sering disalahpahami sebagai "silakan pakai AI sesukanya". Padahal di sinilah kemampuan berpikir kritis paling banyak dilatih. SKB meminta pendidik melatih siswa memverifikasi fakta dari luaran AI, mengidentifikasi bias, dan mengevaluasi kualitas informasi secara kritis.[1]
Contoh sederhana untuk pelajaran Bahasa Indonesia:
- Merah: menulis paragraf eksposisi di kelas, tanpa gawai.
- Kuning: esai di rumah, AI boleh untuk curah ide dan kerangka, dengan keterangan penggunaan AI.
- Hijau: meminta AI menulis teks eksposisi, lalu siswa mencari tiga kelemahannya dan memeriksa faktanya ke sumber lain.
Siswa tidak akan menjadi lebih jujur karena aturannya lebih keras. Siswa menjadi lebih jujur ketika aturannya jelas, adil, dan yang dinilai adalah proses berpikirnya.
Model zona menjawab pertanyaan "boleh atau tidak". Pertanyaan berikutnya lebih menentukan: bagaimana menilai prosesnya tanpa membuat guru kewalahan. Di bagian lampiran buku AI Policy, tersedia perangkat yang dirancang untuk itu, mulai dari Lembar Deklarasi Penggunaan AI sampai Rubrik Penilaian Proses dengan contoh pembagian bobot.
Referensi
-
Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Digital, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 400.1-492 Tahun 2026 (beserta nomor dari kementerian lainnya). Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial di Jalur Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal. Ditetapkan di Jakarta, 12 Maret 2026.
Kemendikdasmen: SKB Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan KA -
Liang, W., Yuksekgonul, M., Mao, Y., Wu, E., dan Zou, J. (2023). GPT detectors are biased against non-native English writers. Patterns, 4(7), 100779.
Patterns: GPT detectors are biased against non-native English writers