Setelah sekolah memutuskan perlu punya kebijakan AI (sebagaimana dibahas dalam tulisan Kebijakan AI di Sekolah: Menunggu atau Mulai Bersiap?), langkah berikutnya adalah menentukan aturan yang benar-benar bisa dipakai oleh guru dan siswa.
Sekolah bisa memulai dari tujuh keputusan berikut, lalu sesuaikan dengan usia siswa, kebutuhan belajar, dan kondisi sekolah.
1. Untuk Apa Sekolah Mau Menggunakan AI?
Tentukan dulu tujuan penggunaan AI di sekolah.
Apakah AI hanya digunakan untuk membantu pekerjaan guru, boleh digunakan siswa untuk belajar, atau juga menjadi bagian dari literasi AI yang memang perlu diajarkan?
Sekolah bisa memulainya dengan prinsip sederhana:
AI boleh membantu proses belajar, tetapi tidak menggantikan proses berpikir dan tanggung jawab siswa.
Prinsip ini nantinya menjadi dasar untuk membuat aturan yang lebih spesifik.
2. Kapan Siswa Boleh Menggunakan AI?
Tidak semua tugas harus punya aturan AI yang sama.
Sekolah bisa membaginya menjadi tiga tingkat:
- Mandiri: dikerjakan tanpa AI ketika guru ingin melihat kemampuan siswa sendiri.
- Bantuan terbatas: siswa mengerjakan lebih dulu, lalu AI boleh digunakan untuk mendapatkan masukan atau membantu revisi.
- Eksplorasi dengan AI: AI boleh membantu mencari alternatif dan mengembangkan gagasan, tetapi siswa tetap memeriksa informasi dan menentukan hasil akhirnya.
Yang penting, siswa sudah tahu batas penggunaan AI sebelum mulai mengerjakan tugas.
3. Bagaimana Kita Tahu Anak Benar-Benar Belajar?
Ketika AI bisa membantu menghasilkan jawaban, hasil akhir kadang nggak cukup untuk menunjukkan bahwa anak benar-benar paham.
Guru bisa melihat prosesnya melalui draf awal, sumber yang digunakan, perubahan yang dibuat, atau meminta siswa menjelaskan alasan di balik jawabannya.
Nggak perlu dilakukan untuk setiap tugas.
Semakin penting tugasnya, semakin penting juga proses belajarnya terlihat.
4. AI Apa yang Boleh Digunakan?
Tidak semua layanan AI punya aturan usia dan perlindungan data yang sama.
Sekolah perlu menentukan layanan yang boleh digunakan, usia pengguna, kebutuhan akun, serta data yang tidak boleh dimasukkan.
Foto teman, data pribadi, nilai siswa, atau dokumen internal sekolah tentu perlu mendapat perhatian khusus.
UNESCO juga menekankan perlindungan privasi dan penggunaan AI generatif yang sesuai usia.[1]
Jadi sekolah perlu memperhatikan bukan hanya apa yang dibuat siswa dengan AI, tetapi juga apa yang mereka berikan kepada AI.
5. Apakah Guru Boleh Pakai AI?
Aturan AI sebaiknya berlaku dua arah.
Guru bisa menggunakan AI untuk mencari ide kegiatan, membuat variasi soal, membantu menyiapkan materi, atau pekerjaan lain yang sesuai.
Tapi hasilnya tetap perlu diperiksa sebelum digunakan.
UNESCO melalui AI Competency Framework for Teachers juga menempatkan etika, pemahaman AI, penggunaan dalam pembelajaran, dan pengembangan profesional sebagai bagian dari kemampuan AI yang perlu dimiliki guru.[2]
Kalau siswa belajar menggunakan AI dengan benar, guru juga perlu dibekali untuk melakukan hal yang sama.
6. Bagaimana Dugaan Penyalahgunaan AI Diperiksa?
Ketika sebuah tugas dicurigai menggunakan AI secara tidak semestinya, jangan langsung mengambil keputusan hanya berdasarkan dugaan.
Periksa dulu aturan tugasnya, lalu lihat bukti yang tersedia seperti draf, sumber, atau proses pengerjaan. Siswa juga perlu mendapat kesempatan untuk menjelaskan pekerjaannya.
AI detector juga jangan dijadikan satu-satunya bukti.
Penelitian terhadap beberapa detektor AI masih menemukan masalah akurasi, termasuk ketika tulisan merupakan campuran pekerjaan manusia dan AI.[3]
Hasil detector lebih tepat menjadi alasan untuk memeriksa lebih lanjut, bukan bukti akhir bahwa siswa curang.
7. Siapa yang Menjalankan dan Mengevaluasi Aturan?
Kebijakan AI perlu membagi tanggung jawab dengan jelas.
Pimpinan sekolah menentukan prinsip. Tim kurikulum menyelaraskannya dengan tugas dan penilaian. Guru menjelaskan aturan kepada siswa. Tim teknologi memeriksa layanan dan data. Orang tua memahami batas pendampingan di rumah.
Siswa juga perlu belajar menjelaskan bantuan AI yang digunakan dan tetap bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Dan karena AI berubah cepat, kebijakannya perlu ditinjau secara berkala, misalnya setiap semester atau setiap tahun.
Tujuannya bukan membuat aturan sebanyak mungkin. Tujuannya supaya siswa, guru, dan orang tua sama-sama tahu kapan AI boleh membantu, kapan siswa perlu bekerja sendiri, dan siapa yang tetap bertanggung jawab atas hasil akhirnya.
Untuk membantu sekolah, guru, dan orang tua memiliki pegangan praktis lengkap dengan contoh klausul, batas penugasan, dan rubrik penilaian berbasis bukti, panduan terstrukturnya dibahas secara runtut dalam buku AI Policy.
Referensi
-
UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. Membahas penggunaan AI generatif dalam pendidikan, termasuk privasi dan penggunaan sesuai usia.
UNESCO — Guidance for Generative AI in Education and Research -
Miao, F., & Cukurova, M. (2024). AI Competency Framework for Teachers. UNESCO. Membahas kemampuan guru dalam memahami dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.
UNESCO — AI Competency Framework for Teachers -
Hadra, M., Cambridge, K., & Mesbah, M. (2026). Evaluating the accuracy and reliability of AI content detectors in academic contexts. International Journal for Educational Integrity, 22, Article 4.
International Journal for Educational Integrity — AI Content Detectors
Panduan Lengkap Penyusunan Aturan AI Sekolah
Buku AI Policy memuat panduan langkah demi langkah, contoh klausul siap pakai, dan kerangka kerja kolaborasi antara pimpinan sekolah, guru, dan orang tua.