Banyak orang tua dan guru yang mulai khawatir dengan penggunaan AI untuk anak. Takut anak jadi terlalu bergantung pada AI, terbiasa mencari jawaban instan, atau lama-lama nggak terbiasa mikir sendiri.
Tapi kalau dipikir-pikir, ada satu hal yang agak aneh.
Kita sibuk mencari cara supaya anak-anak nggak pakai AI. Padahal, mereka akan tumbuh di dunia yang semakin dekat dengan teknologi ini.
Di sekolah, penggunaan AI dalam pendidikan juga mulai menjadi perhatian. Ada kekhawatiran siswa akan terlalu bergantung pada AI dan akhirnya menyerahkan proses berpikirnya kepada teknologi.
Tapi ketika masuk dunia kerja, kemampuan menggunakan teknologi dan AI justru semakin dibutuhkan.
Jadi sebenarnya...
Pakai AI boleh nggak sih?
Mungkin pertanyaannya bukan cuma soal boleh atau nggak boleh, tapi bagaimana caranya supaya anak tetap berpikir ketika menggunakan AI.
Karena AI juga bisa digunakan untuk membantu proses belajar, mencari sudut pandang baru, dan mengembangkan pemikiran.
Yang penting adalah bagaimana cara menggunakan AI dengan benar.
AI untuk Anak: Keterampilan Apa yang Perlu Kita Siapkan?
Menurut Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, berpikir analitis menjadi salah satu keterampilan utama yang paling dibutuhkan perusahaan, dengan 69% perusahaan yang disurvei memasukkannya sebagai keterampilan inti.[1]
Di saat yang sama, keterampilan terkait AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi diperkirakan akan semakin dibutuhkan menuju 2030. Berpikir kreatif, kemampuan beradaptasi, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus belajar juga semakin penting.[1]
Jadi menariknya, semakin berkembang AI, bukan berarti kemampuan manusia untuk berpikir jadi nggak penting.
Justru kita tetap perlu berpikir, beradaptasi, dan terus belajar.
Dalam dunia pendidikan, AI Competency Framework for Students dari UNESCO (2024) juga membahas keterampilan yang perlu dimiliki siswa di era AI.
UNESCO membaginya ke dalam empat bagian: cara pandang yang tetap berpusat pada manusia, etika AI, pemahaman tentang cara kerja dan penggunaan AI, serta bagaimana sistem AI dibuat. Proses belajarnya berkembang dari memahami, menggunakan, sampai menciptakan.[2]
Intinya, belajar menggunakan AI bukan sekadar bisa mengetik prompt lalu mendapatkan jawaban.
Anak juga perlu belajar mempertanyakan jawaban AI, mengecek informasi, memahami batasannya, dan tetap menentukan keputusan sendiri.
Jadi, bisa pakai AI saja belum cukup.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak menggunakan AI tanpa menyerahkan proses berpikirnya kepada AI.
Cara Menggunakan AI untuk Belajar Tanpa Membuat Anak Bergantung
Lalu, bagaimana cara menggunakan AI untuk belajar tanpa membuat anak hanya menerima jawaban?
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mulai dilatih oleh orang tua maupun guru.
1. Mulai dari Pikiran Anak Dulu, Baru Tanya AI
Yang dilatih: kemampuan memecahkan masalah dan belajar mandiri.
Sebelum membuka AI, minta anak menuliskan apa yang sudah dipahami, apa yang sudah dicoba, dan bagian mana yang membuatnya buntu.
Upaya awalnya boleh salah.
Tujuannya supaya anak mencoba berpikir terlebih dahulu sebelum meminta bantuan AI.
Jadi bukan:
Ada soal → tanya AI → ambil jawabannya.
Tapi:
Ada soal → coba dulu → ketemu kesulitan → minta petunjuk AI → lanjut berpikir.
Dengan cara seperti ini, AI berfungsi sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti proses berpikir anak.
2. Jangan Langsung Percaya dengan Jawaban AI
Yang dilatih: berpikir kritis dan kemampuan mengecek informasi.
AI bisa memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu selalu benar.
Karena itu, kalau AI memberikan fakta atau klaim penting, biasakan anak bertanya:
“Sumbernya dari mana?”
Buka sumber aslinya dan lihat apakah sumber tersebut benar-benar mendukung jawaban yang diberikan.
Dan ingat, mendapatkan jawaban yang sama dari dua chatbot belum tentu berarti kita punya dua sumber yang berbeda.
Kebiasaan sederhana ini penting supaya anak tidak hanya bisa menggunakan AI, tetapi juga bisa menilai informasi yang diberikan AI.
3. AI Boleh Kasih Pilihan, Anak yang Menentukan
Yang dilatih: kreativitas dan kemampuan mengambil keputusan.
Untuk tugas terbuka atau kreatif, minta anak membuat gagasan awalnya sendiri.
Setelah itu, AI boleh digunakan untuk mencari alternatif, memberikan sudut pandang lain, atau mengkritik gagasan tersebut.
Anak kemudian bisa memilih, menggabungkan, mengubah, bahkan menolak saran AI.
Yang penting, anak bisa menjelaskan kenapa dia memilihnya.
Dengan begitu, penggunaan AI untuk belajar tidak berhenti pada mencari jawaban. AI bisa digunakan untuk membantu anak melihat pilihan lain dan mengembangkan ide yang sudah dimilikinya.
4. Setelah Pakai AI, Coba Lagi Tanpa AI
Yang dilatih: memahami materi dan mengetahui apakah dirinya benar-benar sudah paham.
Setelah mendapatkan bantuan dari AI, tutup percakapannya.
Lalu coba satu soal serupa dengan situasi yang berbeda.
Kalau tugasnya menulis, minta anak menjelaskan kembali argumennya dengan kata-katanya sendiri.
Kalau ternyata belum bisa, berarti ada bagian yang masih perlu dipelajari lagi.
Karena tujuan menggunakan AI untuk belajar bukan supaya anak bisa mendapatkan jawaban lebih cepat.
Tujuannya supaya anak tetap bisa berpikir setelah AI ditutup.
Referensi
- World Economic Forum. (2025). The Future of Jobs Report 2025.
- UNESCO. (2024). AI Competency Framework for Students.
- UNESCO. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research.