Buku AI Policy bersama orang tua dan anak yang belajar dengan tablet dan laptop, disertai ikon rumah, sekolah, dan komunitas
Kebijakan perlu menyelaraskan tujuan belajar, praktik di kelas, dan pendampingan di rumah.

Di kelas bahasa, AI boleh dipakai untuk memberi masukan pada draf. Di kelas lain, bantuan serupa dianggap mencontek. Orang tua pun bingung: ketika anak kesulitan mengerjakan tugas di rumah, bantuan seperti apa yang boleh diberikan? Kebijakan sekolah perlu membuat keputusan ini bisa dipahami sebelum tugas dikerjakan.

Bagi kepala sekolah dan tim kurikulum, pekerjaan utamanya adalah menyepakati kemampuan yang ingin dikembangkan, bantuan yang diizinkan, dan bukti belajar yang akan dinilai. Guru kemudian menerjemahkannya sesuai mata pelajaran. Orang tua dan siswa perlu menerima penjelasan yang sama, beserta cara meminta klarifikasi ketika aturan belum jelas.

Mulai dari kemampuan anak yang ingin dijaga

Anak perlu mampu menyusun alasan, memeriksa informasi, menciptakan gagasan, dan memperbaiki kesalahan. Kerangka kompetensi AI untuk siswa dari UNESCO (2024) menempatkan penilaian kritis, etika, dan peran manusia dalam pengambilan keputusan sebagai bagian penting pendidikan AI. Kerangka ini memberi arah pendidikan; ia bukan bukti bahwa memakai chatbot dengan sendirinya meningkatkan kemampuan anak.

Kebijakan dapat menerjemahkan arah itu menjadi hasil belajar yang terlihat: siswa menjelaskan alasan memilih jawaban, menemukan klaim yang tidak didukung sumber, serta menyelesaikan tantangan sejenis tanpa bantuan. Izin menggunakan AI perlu menyediakan ruang untuk melatih keterampilan tersebut. Latihan mandiri tetap diperlukan agar guru dapat melihat apa yang sudah dikuasai siswa.

Eksperimen matematika pada hampir seribu siswa SMA di Turki menunjukkan mengapa pembedaan ini penting. Dalam penelitian Bastani dan rekan-rekan (2025), AI membantu pengerjaan latihan, tetapi kelompok dengan antarmuka AI umum memperoleh nilai ujian tanpa bantuan 17% lebih rendah daripada kelompok tanpa AI. Tutor dengan pembatasan yang dirancang bersama guru sebagian besar mengurangi dampak negatif tersebut, tanpa menunjukkan peningkatan hasil ujian mandiri. Ini temuan dalam konteks tertentu, bukan kesimpulan tentang seluruh penggunaan AI.

Implikasinya bagi sekolah: jangan menilai keberhasilan kebijakan hanya dari tugas yang selesai lebih cepat atau tampil lebih rapi. Periksa juga apakah kemampuan siswa bertambah setelah bantuan dihentikan.

Tujuh keputusan yang perlu tertulis dalam kebijakan

Gunakan bagian berikut sebagai bahan rapat penyusunan. Ini usulan operasional yang perlu disesuaikan dengan usia siswa, sumber daya, serta kebutuhan sekolah; bukan standar resmi dari penelitian yang dirujuk.

1. Tentukan tujuan dan cakupan

Tuliskan kemampuan yang ingin dikembangkan dan kegiatan yang diatur: tugas siswa, persiapan mengajar, pemberian umpan balik, serta penggunaan data sekolah. Jelaskan bahwa izin memakai AI dalam satu tugas tidak otomatis berlaku untuk ujian atau tugas lain.

Contoh klausul: “Penggunaan AI harus mendukung tujuan belajar. Setiap tugas menjelaskan bagian yang harus dikerjakan mandiri, bantuan yang boleh digunakan, dan bukti proses yang perlu dikumpulkan.” Cantumkan penanggung jawab kebijakan, tanggal berlaku, nomor versi, dan jadwal peninjauan agar guru serta keluarga mengetahui aturan yang sedang digunakan.

2. Bedakan izin sesuai tujuan tugas

Siapkan pilihan instruksi yang dapat digunakan guru. Ketiga contoh berikut menunjukkan bagaimana satu prinsip diterapkan pada kebutuhan belajar yang berbeda:

  • Mandiri: latihan menyusun argumen awal atau ujian konsep dikerjakan tanpa AI generatif. Guru menjelaskan alat bantu lain yang tetap diizinkan, termasuk dukungan aksesibilitas.
  • Bantuan terbatas: AI boleh memberi umpan balik pada draf siswa, tetapi tidak membuat draf pengganti. Siswa mengumpulkan versi awal dan alasan revisi.
  • Eksplorasi dengan AI: AI boleh membantu menghasilkan alternatif solusi. Siswa memeriksa sumber, membandingkan pilihan, dan mempertanggungjawabkan keputusan akhir.

Untuk SD, utamakan demonstrasi dan pendampingan orang dewasa melalui layanan yang sesuai usia. Pada jenjang berikutnya, perluas tanggung jawab sesuai kesiapan siswa. Guru perlu menuliskan izin pada lembar tugas dan menyediakan jalur bertanya sebelum pengumpulan; hindari menjatuhkan konsekuensi berdasarkan aturan yang baru dijelaskan setelah pekerjaan selesai.

3. Tetapkan bukti belajar dan deklarasi yang proporsional

Pilih bukti yang sesuai tujuan tugas, misalnya kerangka awal, satu revisi penting, sumber yang diperiksa, atau penyelesaian soal lanjutan. Tidak semua tugas membutuhkan seluruh riwayat percakapan. Mengumpulkan terlalu banyak dokumen juga menambah pekerjaan guru dan dapat membuka informasi pribadi yang tidak relevan.

Contoh deklarasi: “Saya menggunakan [alat] untuk [bantuan]. Saya memeriksa [bagian/sumber] dan mengubah atau menolak [saran] karena [alasan].” Untuk kerja kelompok, tambahkan kontribusi masing-masing anggota. Deklarasi membantu keterbukaan; penilaian pemahaman tetap membutuhkan bukti belajar.

4. Putuskan layanan, data, dan akses yang diperbolehkan

Tunjuk penanggung jawab untuk memeriksa kesesuaian usia, pengaturan penyimpanan data, akses akun, serta biaya sebelum suatu layanan dipakai untuk kegiatan sekolah. Sediakan daftar layanan yang disetujui dan proses mengusulkan alat baru, sehingga pemilihan tidak sepenuhnya dibebankan kepada setiap keluarga.

Contoh batas operasional: “Untuk layanan AI publik, gunakan contoh rekaan atau data yang telah disamarkan. Jangan memasukkan identitas, nilai individual, catatan konseling, atau foto siswa untuk keperluan tugas.” Jika kegiatan memerlukan pengolahan data siswa yang dapat dikenali, sekolah perlu meninjaunya tersendiri sebelum kegiatan berjalan.

Siswa yang tidak memiliki perangkat, akun, atau langganan perlu mendapat cara belajar setara, seperti sesi dengan perangkat sekolah atau umpan balik dari guru dan teman. Jangan memberi nilai lebih hanya karena siswa memiliki akses ke alat berbayar.

5. Atur penggunaan AI oleh guru

Kerangka UNESCO untuk guru (2024) mencakup etika, dasar AI, penerapan dalam pembelajaran, dan pengembangan profesional. Ini memberi alasan untuk memasukkan pelatihan guru ke dalam kebijakan, bukan hanya membagikan larangan kepada siswa.

Contoh klausul: “Guru boleh memakai AI untuk menyusun rancangan materi atau soal, dengan memeriksa kebenaran, tingkat kesulitan, sumber, dan kesesuaiannya sebelum digunakan. Keputusan nilai serta tindak lanjut siswa tetap ditinjau dan dipertanggungjawabkan oleh guru.” Jika umpan balik kepada siswa disusun dengan bantuan AI, jelaskan penggunaannya dan sediakan kesempatan meminta penjelasan manusia.

6. Sediakan prosedur klarifikasi dan peninjauan keputusan

Skor detektor AI tidak cukup untuk menetapkan pelanggaran. Van Vlasselaer dan rekan-rekan (2026) menemukan perbedaan kinerja empat detektor pada 160 dokumen, walaupun seluruh alat mengenali teks yang sepenuhnya ditulis manusia dengan benar dalam sampel tersebut. Peneliti tetap menolak penggunaan hasil deteksi sebagai satu-satunya bukti untuk keputusan yang berdampak besar. Kinerja pada satu sampel juga tidak menjamin hasil pada tugas sekolah berbahasa Indonesia.

Tuliskan urutan penanganan yang dapat diikuti guru:

  1. Periksa instruksi tugas dan bagian mana yang diduga melanggar. Sampaikan kekhawatiran secara spesifik kepada siswa.
  2. Tinjau bukti yang relevan, seperti draf dan sumber, lalu beri kesempatan siswa menjelaskan. Kesulitan menjawab secara lisan saja belum membuktikan kecurangan.
  3. Bedakan kebutuhan belajar, ketidakjelasan aturan, dan pelanggaran yang didukung bukti. Dokumentasikan alasan keputusan serta tindak lanjutnya.
  4. Sediakan peninjauan oleh pihak lain yang ditunjuk sekolah dan jelaskan cara siswa atau orang tua mengajukannya.

Konsekuensi perlu diumumkan sebelumnya dan proporsional terhadap temuan. Misalnya, ketidakjelasan deklarasi dapat ditangani dengan perbaikan catatan dan pembimbingan; pelanggaran yang terbukti ditangani sesuai tata tertib sekolah. Sesuaikan proses klarifikasi dengan kebutuhan bahasa dan aksesibilitas siswa.

7. Tetapkan siapa melakukan apa dan kapan aturan dievaluasi

Pimpinan menetapkan prinsip dan menangani peninjauan keputusan. Tim kurikulum menyelaraskan contoh tugas serta rubrik. Guru menjelaskan izin dan memeriksa belajar siswa. Penanggung jawab teknologi meninjau layanan. Orang tua mendampingi sesuai petunjuk tugas, sementara siswa menyatakan bantuan dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.

Libatkan perwakilan siswa dan orang tua saat menguji kejelasan draf. Mintalah mereka menjelaskan kembali apa yang boleh dilakukan pada satu tugas contoh. Jika jawabannya berbeda-beda, perbaiki instruksinya sebelum memperluas penerapan.

Contoh penerapan: tugas pendapat tentang sampah plastik

Misalkan tujuan guru adalah menilai kemampuan menyusun argumen berbasis bukti. Petunjuk tugasnya dapat ditulis sebagai berikut:

“Tulis pendapat awal dan alasanmu sendiri. Setelah itu, AI boleh memberi kritik terhadap kejelasan alasan, tetapi tidak menulis ulang seluruh tugas. Periksa klaim utama melalui sumber yang kamu baca. Kumpulkan draf awal, hasil revisi, dan catatan bantuan AI. Jelaskan satu saran yang kamu terima atau tolak beserta alasannya.”

Rubrik dapat memeriksa ketepatan bukti, hubungan alasan dengan kesimpulan, kualitas revisi, dan kemampuan menjelaskan keputusan. Guru juga memberi pertanyaan lanjutan singkat untuk melihat apakah siswa bisa menggunakan penalarannya dalam situasi berbeda. Bobot tiap aspek ditentukan sesuai tujuan pelajaran, bukan mengikuti satu persentase yang dianggap cocok untuk semua tugas.

Orang tua menerima pesan yang selaras: dampingi anak mencari sumber dan memahami masukan, lalu biarkan anak menentukan serta menulis revisinya. Jika keluarga tidak memakai AI, masukan dari teman atau guru dapat digunakan dengan kriteria penilaian yang sama. Contoh kebiasaan sehari-hari tersedia di aturan AI untuk melatih keterampilan masa depan anak.

Uji coba empat minggu sebelum memperluas penerapan

Jadwal berikut adalah contoh rencana kerja, bukan durasi baku dari riset. Sekolah dapat menyesuaikannya dengan kalender belajar dan kesiapan guru.

  1. Minggu pertama: bentuk tim lintas peran, petakan praktik yang sudah berjalan, dan pilih beberapa tugas untuk uji coba. Hasilnya berupa draf aturan serta daftar pertanyaan yang belum terjawab.
  2. Minggu kedua: guru mencoba instruksi dan menilai contoh pekerjaan bersama. Sepakati bukti yang cukup, dukungan bagi siswa tanpa akses, dan saluran klarifikasi.
  3. Minggu ketiga: jalankan uji coba di beberapa kelas. Catat kebingungan siswa, waktu tambahan guru, dan contoh pemahaman yang terlihat saat bantuan dihentikan.
  4. Minggu keempat: tinjau hasil bersama guru, siswa, dan perwakilan orang tua. Perbaiki bagian yang belum jelas, terbitkan versi bertanggal, dan tentukan peninjauan berikutnya.

Evaluasi perlu melihat kemampuan mandiri, kualitas pemeriksaan sumber, kejelasan instruksi, kesetaraan akses, dan beban guru. Jumlah siswa yang ditandai detektor bukan ukuran keberhasilan kebijakan. Jika tugas terlihat lebih bagus tetapi pemahaman tidak bertambah, ubah desain bantuan dan latihan sebelum menambah penggunaan AI.

Referensi dan batas penerapan

Seluruh sumber berikut terbit setelah 2020. Kerangka UNESCO memberi arah kompetensi; penelitian menguji situasi tertentu. Contoh klausul, rubrik, prosedur, dan jadwal di artikel ini merupakan usulan penulis yang perlu dievaluasi di sekolah masing-masing.

  1. Miao, F., Shiohira, K., & Lao, N. (2024). AI Competency Framework for Students. UNESCO.
  2. Miao, F., & Cukurova, M. (2024). AI Competency Framework for Teachers. UNESCO.
  3. Bastani, H., dan rekan-rekan. (2025). Generative AI without guardrails can harm learning: Evidence from high school mathematics. PNAS, 122(26), e2422633122. Naskah terbuka dari penulis (PDF).
  4. Van Vlasselaer, M., Van Droogenbroeck, F., & Spruyt, B. (2026). Who wrote this? Evaluating the reliability of AI detection tools in higher education. International Journal for Educational Integrity, 22, 16.
Sampul buku AI Policy

Bahan kerja untuk tim penyusun kebijakan

Gunakan pembahasan ini sebagai agenda rapat awal. Buku AI Policy dapat menjadi bahan lanjutan bagi pimpinan, guru, dan orang tua dalam menyusun panduan bersama.

Lihat detail buku AI Policy