Kekhawatiran guru dan orang tua tentang AI sebagai jalan pintas untuk menyontek memang beralasan. Siswa bisa mengumpulkan jawaban yang rapi tanpa menyusun alasan atau memahami isinya. Ketika tugas dinilai hanya dari hasil akhir, bantuan seperti ini mudah menutupi bagian yang sebenarnya belum dikuasai anak.

Namun, ada sisi lain yang juga perlu dijaga: siswa yang ingin memahami pelajaran, tetapi tidak berani bertanya di kelas. Bagi sebagian anak, percakapan dengan AI dapat menjadi kesempatan untuk mengulang pertanyaan dan meminta penjelasan awal. Sekolah perlu menangani penyalahgunaan sekaligus menyediakan ruang bagi penggunaan yang mendukung belajar.

Kekhawatiran yang nyata, dengan batas yang perlu diperjelas

Penggunaan AI tidak otomatis sama dengan plagiarisme. Menyalin gagasan atau tulisan orang lain tanpa pengakuan sumber adalah persoalan plagiarisme. Menyerahkan jawaban buatan AI pada tugas yang mewajibkan pekerjaan mandiri dapat menjadi pelanggaran aturan tugas, meskipun teksnya tidak cocok dengan sumber tertentu. Sebaliknya, meminta penjelasan tambahan dapat diizinkan jika sesuai petunjuk guru.

Karena itu, deklarasi “saya memakai AI” belum tentu membuat penggunaan tersebut diperbolehkan. Guru perlu menjelaskan sejak awal bantuan yang diizinkan dan kemampuan yang harus ditunjukkan sendiri. Orang tua juga perlu mengetahui batas ini ketika mendampingi anak di rumah.

Pentingnya penggunaan yang etis turut ditekankan dalam peluncuran panduan GenAI oleh Ditjen Diktiristek (2024). Panduan tersebut ditujukan kepada dosen dan mahasiswa; penerapannya pada siswa sekolah perlu disesuaikan dengan usia, tujuan belajar, dan kebutuhan pendampingan.

Mengapa detektor AI bukan jalan keluar tunggal

Liang dan rekan-rekan (2023), dalam jurnal Patterns, menguji tujuh detektor pada 91 esai TOEFL tulisan manusia dan 88 esai siswa kelas 8 di AS. Rata-rata tingkat salah deteksi pada esai TOEFL sekitar 61%: tulisan penulis non-penutur asli bahasa Inggris ditandai sebagai buatan AI.

Peneliti mengaitkan pola tersebut dengan variasi bahasa yang lebih terbatas pada sampel yang diuji. Hasil ini menunjukkan risiko ketidakadilan, tetapi tidak berarti setiap tulisan sederhana atau seluruh penutur bahasa kedua akan mengalami kesalahan yang sama. Angkanya juga tidak otomatis berlaku untuk bahasa Indonesia atau versi detektor terbaru.

Penelitian yang lebih baru oleh Van Vlasselaer dan rekan-rekan (2026) menemukan bahwa empat detektor mengenali semua dokumen yang sepenuhnya ditulis manusia dengan benar dalam sampel uji mereka. Namun, kemampuan mendeteksi teks AI dan teks campuran berbeda-beda. Peneliti tetap menyimpulkan bahwa hasil deteksi tidak boleh menjadi satu-satunya bukti dalam keputusan yang berdampak besar.

Prinsip penilaian

Skor detektor belum membuktikan seorang siswa melanggar aturan. Periksa petunjuk tugas, draf, sumber, dan penjelasan siswa secara bersama. Percakapan membantu melihat pemahaman, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan apakah AI digunakan.

Sisi lain: ruang bertanya bagi siswa yang ragu

Bayangkan seorang siswa belum memahami pecahan, sementara teman-temannya sudah beralih ke latihan berikutnya. Ia ingin bertanya lagi, tetapi khawatir dianggap menghambat kelas. Dengan pendampingan yang sesuai, AI dapat memberinya kesempatan meminta contoh tambahan atau penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana.

Ini adalah kemungkinan penggunaan, bukan jaminan bahwa chatbot selalu memberi ruang yang aman atau jawaban yang benar. Penjelasan AI tetap bisa keliru, terlalu sulit, atau justru langsung memberikan jawaban. Guru dan orang tua perlu membantu anak memeriksa pemahamannya serta tetap membuka kesempatan untuk bertanya kepada manusia.

Perbedaan cara bantuan diberikan memang penting. Dalam eksperimen Bastani dan rekan-rekan (2025) pada hampir seribu siswa SMA di Turki, kelompok dengan antarmuka AI umum mendapat nilai ujian tanpa bantuan 17% lebih rendah daripada kelompok tanpa AI. Tutor dengan pembatasan yang dirancang bersama guru sebagian besar mengurangi dampak negatif itu. Penelitian ini terbatas pada pembelajaran matematika di satu sekolah dan tidak menguji secara khusus siswa yang malu bertanya.

Peluang pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa tetap layak dikembangkan. Ukurannya adalah apakah anak semakin memahami konsep dan mampu mencoba sendiri setelah bantuan dihentikan.

Mengubah rancangan tugas agar hasil salin-tempel tidak cukup

Guru dapat mempertahankan tujuan pelajaran sambil menambah kesempatan melihat cara siswa berpikir. Empat arah berikut dapat menjadi bahan penyesuaian; tidak ada satu pembagian bobot nilai yang cocok untuk semua mata pelajaran.

  • Perkuat bukti belajar di kelas. Beri bobot yang sesuai tujuan pada pekerjaan yang diamati guru, diskusi, atau penjelasan atas keputusan siswa. Dukungan bahasa dan aksesibilitas tetap disediakan.
  • Hubungkan pekerjaan rumah dengan pembahasan berikutnya. Pengamatan lingkungan atau wawancara dapat menjadi bahan diskusi di kelas. Data lokal dan pengalaman pribadi juga bisa direkayasa, sehingga contoh tugas ini tetap membutuhkan peninjauan proses.
  • Minta deklarasi yang ringkas. Siswa menyebut alat, bantuan yang digunakan, dan bagian yang diperiksa atau diubah. Deklarasi harus mengikuti izin tugas dan tidak menggantikan pencantuman sumber yang benar-benar dibaca.
  • Periksa pemahaman setelah eksplorasi. Minta siswa menjelaskan kesimpulan atau menyelesaikan soal sejenis tanpa bantuan AI, dengan alat bantu aksesibilitas yang tetap tersedia.

Langkah-langkah ini tidak menghapus kecurangan sepenuhnya. Tujuannya membuat penilaian lebih mencerminkan kemampuan siswa, sekaligus memberi guru dasar yang lebih baik untuk menentukan bantuan belajar.

Satu langkah yang bisa dimulai

Pilih satu tugas yang sudah ada, lalu tentukan bagian mana yang perlu dijelaskan kembali oleh siswa. Misalnya, setelah mengumpulkan esai, siswa menjelaskan satu sumber yang mendukung kesimpulannya dan satu perubahan penting dari draf awal. Sampaikan kebutuhan bukti tersebut sebelum tugas dimulai.

Di rumah, orang tua dapat membuka percakapan dengan, “Apa yang sekarang kamu pahami setelah mengerjakan tugas ini?” Jika anak belum bisa menjelaskan, jadikan itu awal pendampingan, bukan langsung sebagai tuduhan. Kesulitan menjawab bisa menunjukkan konsep yang perlu dipelajari kembali.

Sampul buku AI Policy

Panduan lebih lengkap untuk menilai proses belajar

Buku AI Policy karya Jekky Sulianto dan Monica Chandra membahas penilaian proses serta tugas tersupervisi dan tak tersupervisi dalam Bagian B. Lampirannya mencakup rubrik penilaian proses dan lembar deklarasi penggunaan AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

Guru, pimpinan, dan orang tua dapat menggunakannya sebagai bahan menyelaraskan aturan, sambil tetap memberi ruang bagi siswa yang membutuhkan bantuan belajar.

Lihat isi dan pilihan pembelian buku AI Policy

Referensi

Seluruh sumber berikut terbit setelah 2020. Temuan penelitian berlaku pada konteks pengujiannya; contoh pendampingan dan rancangan tugas dalam artikel ini merupakan usulan penerapan.

  1. Ditjen Diktiristek. (2024). Kawal Transformasi Digital, Ditjen Diktiristek Luncurkan Buku Panduan Penggunaan GenAI dan Transformasi Pendidikan MBKM.
  2. Liang, W., dan rekan-rekan. (2023). GPT detectors are biased against non-native English writers. Patterns, 4(7), 100779.
  3. Van Vlasselaer, M., Van Droogenbroeck, F., & Spruyt, B. (2026). Who wrote this? Evaluating the reliability of AI detection tools in higher education. International Journal for Educational Integrity, 22, 16.
  4. Bastani, H., dan rekan-rekan. (2025). Generative AI without guardrails can harm learning: Evidence from high school mathematics. PNAS, 122(26), e2422633122.