“Sebagian guru di sekolah kami masih kesulitan mengelola administrasi daring atau proyektor kelas. Bagaimana mungkin mereka dituntut mengajarkan kecerdasan artifisial?”
Komentar semacam ini kerap terlontar dalam rapat komite maupun percakapan antarorang tua. Nada bicaranya mungkin terdengar skeptis, namun kekhawatiran tersebut berakar pada pengamatan lapangan yang nyata. Banyak guru memang belum terbiasa berinteraksi dengan AI generatif, apalagi mengintegrasikannya ke dalam kegiatan belajar mengajar.
Namun, meragukan kesiapan guru tanpa memahami peta jalan pelatihan dan definisi kompetensi yang sebenarnya hanya akan melahirkan kebuntuan. Pertanyaan yang lebih tepat diajukan adalah: apa arti kesiapan yang sesungguhnya bagi seorang pendidik di era AI?
Potret faktual: akselerasi pelatihan guru nasional
Menyusul penetapan Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bergerak masif menyiapkan kapasitas pendidik.
Sepanjang tahun 2025, program bimbingan teknis dan Training of Trainers (ToT) telah menjangkau sekitar 53.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia, mendekati 97 persen dari target awal 55.000 sekolah. Secara paralel, kementerian menargetkan pelatihan bagi 361 ribu guru dalam kerangka penguatan pembelajaran mendalam (*deep learning*), literasi koding, serta pedagogi kecerdasan artifisial.
Kurikulum pelatihan pendidik ini tidak sekadar mengajarkan instruksi teknis (*prompting*), melainkan berfokus pada fondasi pedagogis: cara merangsang logika komputasional, teknik asesmen proses, perlindungan data pribadi murid, dan penanaman etika digital. Tentu saja, angka ratusan ribu tersebut adalah target program nasional yang berjalan bertahap, membuktikan bahwa kesiapan guru sedang dibangun secara terstruktur.
Siap mengajar bukan berarti harus menjadi insinyur kecerdasan buatan
Kekeliruan terbesar dalam memandang kesiapan guru adalah menyamakan pendidik dengan ilmuwan data atau pengembang perangkat lunak. Guru tidak dituntut untuk mampu memprogram algoritma pembelajaran mesin (machine learning).
Kesiapan sejati seorang pendidik di era AI tercermin pada lima kompetensi pedagogis:
- Memfasilitasi dialog kritis: memperlakukan AI sebagai rekan debat intelektual, bukan mesin penyaji kunci jawaban mutlak.
- Melatih verifikasi informasi: membimbing siswa membedah kelemahan argumen AI, mendeteksi halusinasi data, dan memeriksa sumber primer.
- Mendesain asesmen autentik: memindahkan titik berat penilaian dari produk tulisan akhir menuju pengamatan proses penalaran dan refleksi lisan.
- Menjaga privasi murid: disiplin mematuhi etika kerahasiaan dengan tidak pernah memasukkan data identitas pribadi atau rekam nilai rapor siswa ke aplikasi AI publik.
- Menjelaskan arah kebijakan secara jernih: mampu berkomunikasi dengan tenang kepada siswa dan orang tua mengenai batasan bantuan teknologi yang diperbolehkan.
Menunggu seluruh guru menjadi ahli teknologi sebelum memulai berarti tidak akan pernah mulai. Kesiapan dibangun bersama di ruang kelas: guru memimpin sebagai arsitek proses berpikir, sementara siswa belajar bernalar secara kritis.
Peran guru tidak tergantikan, justru semakin strategis
Ada anggapan keliru bahwa jika materi pelajaran dapat dijelaskan oleh kecerdasan buatan, beban mengajar guru akan berkurang drastis sehingga mereka tinggal bersantai. Kenyataan di lapangan membuktikan sebaliknya.
Kecerdasan buatan memang dapat mengotomatisasi penyusunan draf lembar kerja atau ringkasan teori. Namun di ruang kelas, peran guru justru semakin krusial. Guru tidak lagi sekadar berdiri di depan papan tulis mentransfer informasi satu arah, melainkan bertindak sebagai fasilitator aktif: berkeliling memantau eksplorasi siswa, mengajukan pertanyaan penantang yang tidak terpikirkan oleh chatbot, serta menyalakan kembali rasa ingin tahu saat anak terpaku pada kesimpulan instan.
Membangun kolaborasi antara guru dan orang tua
Transisi digital di sekolah membutuhkan ekosistem yang saling menguatkan. Guru yang sedang beradaptasi dengan teknologi baru sangat membutuhkan dukungan moral, bukan sorotan yang menyudutkan.
Sekolah dapat menyelenggarakan forum diskusi berkala bersama komite sekolah untuk menyelaraskan pemahaman soal AI. Orang tua yang berkecimpung di industri teknologi atau komunikasi dapat menjadi aset berharga dengan berbagi wawasan praktis, mendukung terciptanya sinergi pengetahuan sebagaimana dibahas dalam topik Aset Produktif.
Daftar Cek Kesiapan Guru & Rancangan Pembelajaran
Buku AI Policy menyediakan instrumen daftar periksa kesiapan guru, format rencana pembelajaran terpadu 15/85, serta panduan memfasilitasi seminar kolaborasi bersama orang tua.
Langkah praktis minggu ini
Bagi pendidik: cobalah meminta AI menyusun satu skenario pembelajaran interaktif yang berfokus pada diskusi kelas, lalu sesuaikan dengan dinamika murid Anda. Bagi orang tua: tanyakan kepada pihak sekolah pelatihan apa saja yang telah diikuti para guru terkait AI, dan sampaikan kesiapan komite sekolah untuk mendukung program peningkatan kapasitas tersebut.
Panduan teknis pengajaran di kelas diuraikan lebih mendalam dalam panduan AI untuk guru.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah ada pelatihan AI untuk guru dari pemerintah?
Ada. Kemendikdasmen menjalankan Pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial bagi guru yang telah menjangkau sekitar 53.000 satuan pendidikan pada 2025, serta menargetkan peningkatan kompetensi 361 ribu guru dalam penguatan pembelajaran mendalam, koding, dan AI.
Apakah guru harus ahli teknologi untuk mengajarkan AI?
Tidak. Pendidik tidak dituntut menjadi programmer AI. Kesiapan guru terletak pada kapasitas memandu proses bernalar, memverifikasi kebenaran jawaban mesin, merancang tugas berbasis proses berpikir, dan menjaga kerahasiaan data siswa.
Apakah AI membuat pekerjaan guru lebih ringan?
AI mempermudah pembuatan draf materi administrasi, tetapi peran pengajaran guru di kelas bergeser menjadi lebih intensif: memfasilitasi dialog kritis, mengamati proses penalaran mandiri siswa, dan membimbing karakter etika.
Rujukan
Isi artikel ini bersumber dari buku AI Policy karya Jekky Sulianto dan Monica Chandra, didukung data dan dokumen berikut:
- Kemendikdasmen (2025). Target pelatihan 361 ribu guru dalam pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial. ANTARA
- Kemendikdasmen (2025). Training of Trainers Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk guru. Portal Koding dan KA · Direktorat Guru Pendidikan Dasar