Ilustrasi siswa dan robot AI: AI Bikin Anak Makin Malas Berpikir?
AI Bikin Anak Makin Malas Berpikir? Menguji dampak penggunaan kecerdasan buatan terhadap kemandirian proses belajar dan kemampuan berpikir kritis anak.

Kalau anak terlalu sering pakai AI, apakah kemampuan berpikirnya bisa menurun?

AI bisa mengerjakan banyak hal yang sebelumnya membutuhkan usaha dari anak: mencari informasi, merangkum bacaan, menyusun tulisan, sampai menyelesaikan soal.

Ketika pekerjaan yang seharusnya melatih anak berpikir terus-menerus diserahkan kepada AI, sebagian proses belajar bisa ikut terlewati.

Penelitian mulai menunjukkan bahwa dampak AI terhadap pembelajaran sangat bergantung pada bagaimana AI digunakan.

Saat Anak Bisa Mengerjakan, Belum Tentu Sudah Paham

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2025 menguji penggunaan AI dalam pembelajaran matematika pada hampir 1.000 siswa SMA.[1]

Ketika AI tersedia, siswa yang menggunakan bantuan AI dapat mengerjakan latihan dengan lebih baik.

Namun ketika bantuan AI dilepas, hasilnya berbeda.

Dalam salah satu eksperimen, siswa yang sebelumnya menggunakan AI tanpa batasan pembelajaran mengalami penurunan performa pada ujian tanpa AI dibanding kelompok yang sejak awal belajar tanpa bantuan AI. Versi AI yang dirancang dengan batasan agar lebih menyerupai tutor dapat mengurangi dampak tersebut.[1]

Artinya, hasil tugas yang lebih baik saat menggunakan AI belum tentu menunjukkan kemampuan anak juga meningkat.

Selama AI masih digunakan, yang terlihat adalah hasil kerja anak + AI.

Kemampuan anak sendiri baru terlihat ketika ia harus mengerjakan atau menjelaskan tanpa bantuan tersebut.

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Belajar membutuhkan usaha untuk mengingat, mencoba, membuat kesalahan, dan memperbaikinya.

Dalam ilmu belajar, ada konsep desirable difficulties: kondisi belajar tertentu memang terasa lebih sulit, tetapi justru dapat membantu pembelajaran dan ingatan dalam jangka panjang.[2]

AI bisa mengurangi proses tersebut jika setiap kesulitan langsung diselesaikan oleh AI.

Anak mungkin menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, tetapi sebagian usaha berpikir yang seharusnya dilakukan sendiri ikut berkurang.

Jadi yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah anak mendapatkan jawaban dari AI, tetapi:

Bagian mana dari proses berpikir yang masih dilakukan anak sendiri?

Lalu, Bagaimana Solusinya?

Yang perlu dijaga adalah bagian berpikir yang tetap dilakukan anak sendiri.

Sederhananya, jangan hanya melihat hasil yang dibuat anak dengan AI. Lihat juga apakah kemampuan anak ikut berkembang.

Karena kualitas pekerjaan bisa meningkat dengan bantuan AI, sementara pemahamannya belum tentu ikut meningkat.

Untuk langkah praktisnya, Anda bisa mempelajari cara mendampingi anak dalam Panduan AI untuk Orang Tua atau memahami prinsip dasarnya melalui artikel Literasi AI.

Sampul buku AI Policy

Buku AI Policy

Buku AI Policy memuat panduan lengkap tentang batasan penugasan dengan AI, rubrik penilaian berbasis proses berpikir, dan kesepakatan penggunaan AI antara sekolah, guru, serta orang tua.

Lihat detail buku AI Policy

Referensi

  1. Bastani, H., Donahue, K., Goldberg, E. P., Lee, M., & Zhang, E. (2025). Generative AI without guardrails can harm learning: Evidence from high school mathematics. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), 122(26), e2422633122.
    PNAS — Generative AI without guardrails can harm learning
  2. Bjork, E. L., & Bjork, R. A. (2011). Making things hard on yourself, but in a good way: Creating desirable difficulties to enhance learning. Psychology and the Real World: Essays Illustrating Fundamental Contributions to Society, 2(1), 59-68.