Sekolah mulai membicarakan pelajaran AI. Guru memikirkan materi dan tugas, pimpinan mempertimbangkan kesiapan sekolah, sementara orang tua ingin tahu bagaimana anak akan didampingi. Ketiganya menghadapi perubahan yang sama, tetapi membutuhkan pegangan untuk keputusan yang berbeda.
Masuknya AI ke kurikulum memberi kesempatan untuk menyiapkan anak menghadapi teknologi secara lebih terarah. Namun, menambahkan pelajaran belum menjawab seluruh persoalan: kapan bantuan AI diperbolehkan, bagaimana pemahaman dinilai, dan apa yang perlu dilakukan keluarga di rumah? Persoalan inilah yang relevan dengan pembahasan dalam buku AI Policy karya Jekky Sulianto dan Monica Chandra.
Kurikulum memberi arah; sekolah perlu menyiapkan praktiknya
Penjelasan Kemendikdasmen tentang Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 menyebut Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan. Penerapannya dimulai bertahap pada tahun ajaran 2025/2026 dari kelas 5, 7, dan 10. Konteks ini penting bagi keluarga: pelaksanaannya tidak berarti semua kelas langsung menjalani pembelajaran yang sama.
Di tingkat sekolah, kesiapan perlu terlihat dalam pengalaman belajar siswa. Misalnya, anak boleh memakai AI untuk meminta masukan pada suatu tugas, tetapi harus menunjukkan kemampuan mandiri pada tugas lain. Guru perlu dapat menjelaskan alasan perbedaan itu, dan orang tua membutuhkan informasi yang sama ketika mendampingi pekerjaan di rumah.
Buku AI Policy membahas cara pandang, pembelajaran, dan kebijakan sekolah yang berkaitan dengan keputusan tersebut. Acuan resmi kurikulum tetap berasal dari pemerintah; buku ini dapat menjadi bahan pendamping diskusi dan penyusunan aturan di sekolah.
Yang ingin dikembangkan adalah kemampuan anak
Anak perlu belajar mempertanyakan jawaban, memeriksa bukti, dan menjelaskan pilihannya. Kerangka kompetensi AI untuk siswa dari UNESCO (2024) menekankan penilaian kritis, etika, dan peran manusia dalam pengambilan keputusan. Arah ini membantu sekolah menetapkan tujuan yang lebih bermakna daripada sekadar mengenalkan aplikasi.
Bayangkan siswa membuat laporan dengan bantuan AI. Laporannya rapi, tetapi guru masih perlu mengetahui apakah siswa memahami kesimpulannya dan dapat menjelaskan sumber yang dipakai. Contoh ini menunjukkan mengapa pembelajaran AI berkaitan dengan cara memberi tugas dan menilai proses berpikir, termasuk di luar mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial.
Dalam AI Policy, persoalan tersebut dibahas melalui bagian tentang pembelajaran untuk guru dan perubahan sekolah untuk pimpinan. Pembaca diajak melihat hubungan antara penggunaan teknologi, tujuan belajar, dan tanggung jawab setiap pihak.
Satu bahan baca untuk menyelaraskan tiga peran
Daftar isi buku AI Policy menyediakan bagian sesuai kebutuhan pembaca, sehingga diskusi dapat dimulai dari persoalan yang paling dekat dengan perannya:
- Guru: Bagian B membahas pembelajaran dan penilaian proses, termasuk tugas tersupervisi dan tak tersupervisi. Ini relevan ketika guru menentukan bantuan yang boleh digunakan siswa.
- Kepala sekolah dan yayasan: Bagian C membahas perubahan sekolah, empat fase menuju sekolah AI-Ready, kebijakan yang menuntun, dan keterlibatan orang tua.
- Orang tua: Bagian D membahas kebiasaan AI di rumah, pendampingan sesuai tahap perkembangan, dan kapan orang tua perlu bertindak.
Empat fase dalam buku merupakan kerangka pembahasan penulis, bukan klasifikasi resmi pemerintah. Penjelasan tiap fase dan hubungannya dengan praktik sekolah dapat dibaca lebih lengkap dalam buku.
Mulai diskusi dari satu pengalaman belajar
Dalam rapat guru atau pertemuan orang tua, ambil satu tugas yang sudah digunakan di kelas. Bahas pertanyaan ini: “Kalau siswa memakai AI dalam tugas tersebut, kemampuan apa yang tetap harus ia tunjukkan sendiri?” Jawabannya dapat membantu menemukan bagian aturan yang masih belum jelas.
Percakapan awal ini belum menggantikan kebutuhan akan panduan bersama. Sekolah masih perlu menyelaraskan penilaian, keterbukaan penggunaan AI, kesiapan guru, dan pendampingan keluarga. Buku AI Policy menyediakan pembahasan lanjutan serta perangkat yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
Siapkan pembahasan bersama dengan buku AI Policy
Untuk guru, pimpinan, dan orang tua yang membutuhkan pegangan lebih lengkap, AI Policy menghubungkan pembelajaran di kelas, kebijakan sekolah, dan kebiasaan di rumah dalam satu buku.
Selain bagian sesuai peran, buku memuat contoh perumusan kebijakan dan lampiran seperti daftar cek kesiapan sekolah dan guru, lembar deklarasi penggunaan AI, rubrik penilaian proses, serta Kesepakatan AI Keluarga. Isi dan perangkat tersebut dapat menjadi bahan rapat atau diskusi sebelum disesuaikan dengan kondisi sekolah.
Referensi
Konteks kebijakan dan kompetensi merujuk pada sumber berikut. Uraian isi buku mengacu pada daftar isi AI Policy; rujukan ini tidak menyatakan dukungan pemerintah atau UNESCO terhadap buku tersebut.